Skip to main content

Cagar Budaya Adalah: Pengertian, Kriteria, Contoh Cagar Budaya di Indonesia

Pengertian cagar budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan.

Pengertian Cagar Budaya


Definisi cagar budaya menurut UU Nomor 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Benda Cagar Budaya


Benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak, yang punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Benda cagar budaya tidak hanya penting bagi disiplin ilmu arkeologi, tetapi terdapat berbagai disiplin yang dapat melakukan analisis terhadapnya. Antropologi misalnya dapat melihat kaitan antara benda cagar budaya dengan kebudayaan sekarang.

Beberapa Obyek Cagar Budaya di Indonesia


Pada 2019, terdapat sekitar 1.492 cagar budaya yang bergerak maupun tidak yang sudah terdaftar dan teridentifikasi. Berikut adalah beberapa obyek cagar budaya di Indonesia.

  1. Benteng Marlborough, di Bengkulu, Bengkulu
  2. Benteng Oranje, di Ternate, Maluku Utara
  3. Benteng Rotterdam, di Makassar, Sulawesi Selatan
  4. Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah
  5. Candi Prambanan, di Klaten, Jawa Tengah
  6. Galeri Nasional Indonesia, di Jakarta
  7. Gedung Kebangkitan Nasional, di Jakarta
  8. Gedung Kesenian Jakarta, di Jakarta
  9. Gedung Lawang Sewu, di Semarang, Jawa Tengah
  10. Gedung Sate, di Bandung, Jawa Barat
  11. Gedung Sinematek Haji Usmar Ismail, di Jakarta
  12. Gereja Blenduk, di Semarang, Jawa Tengah
  13. Gereja Katedral, di Jakarta
  14. Hotel Majapahit, di Surabaya, Jawa Timur
  15. Istana Maimun, di Medan, Sumatra Utara
  16. Istana Raja Sumbawa, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
  17. Istana Siak Sri Inderapura, di Siak, Riau
  18. Istano Basa Pagaruyung, di Tanah Datar, Sumatra Barat
  19. Jam Gadang, di Bukittinggi, Sumatra Barat
  20. Kampung Arab Al-Munawar, di Palembang, Sumatra Selatan
  21. Kampung Kapitan, di Palembang, Sumatra Selatan
  22. Kawasan Pantai Kuta, di Badung, Bali
  23. Kawasan Wisata Nusa Dua, di Badung, Bali
  24. Kelenteng Sam Poo Kong, di Semarang, Jawa Tengah
  25. Kelenteng Tay Kak Sie, di Semarang, Jawa Tengah
  26. Kelenteng Tuo Hok Tek, di Jambi, Jambi
  27. Keraton Surakarta Hadiningrat, di Surakarta, Jawa Tengah
  28. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Yogyakarta, DIY
  29. Kompleks Makam Raja Jafar, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau
  30. Kuil Shri Mariamman, di Medan, Sumatra Utara
  31. Masjid Agung Demak, di Demak, Jawa Tengah
  32. Masjid Ar-Rahman Bulila, di Gorontalo, Gorontalo
  33. Masjid Istiqlal, di Jakarta
  34. Masjid Menara Kudus, di Kudus, Jawa Tengah
  35. Masjid Muhammadan, di Padang, Sumatra Barat
  36. Masjid Raya Medan, di Medan, Sumatra Utara
  37. Masjid Raya Sultan Riau, di Tanjungpinang, Kepulauan Riau
  38. Monumen Nasional, di Jakarta
  39. Monumen Pers Nasional, di Surakarta, Jawa Tengah
  40. Museum Nasional, di Jakarta
  41. Observatorium Bosscha, di Lembang, Jawa Barat
  42. Rumah Cut Nyak Dien, di Aceh Besar, Aceh
  43. Rumah Rasuna Said, di Agam, Sumatra Barat
  44. Rumah Tjong A Fie, di Medan, Sumatra Utara
  45. Rumah W. R. Soepratman, di Surabaya, Jawa Timur
  46. Taman Ismail Marzuki, di Jakarta
  47. Tugu Pahlawan, di Surabaya, Jawa Timur

Kriteria Sebuah Bangunan Dapat Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya


Kriteria Cagar Budaya

pengertian cagar budaya
Salah satu cagar budaya di Indonesia

Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:

a. Berusia 50 tahun atau lebih.

b. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun.

Yang dimaksud dengan “masa gaya” adalah ciri yang mewakili masa gaya tertentu yang berlangsung sekurang-kurangnya 50 tahun, antara lain tulisan, karangan, pemakaian bahasa, dan bangunan rumah, misalnya gedung Bank Indonesia yang memiliki gaya arsitektur tropis modern Indonesia pertama.

c. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.

d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Bangunan Cagar Budaya dapat:

a. berunsur tunggal atau banyak; dan/atau

b. berdiri bebas atau menyatu dengan formasi alam.

Jadi, sebuah bangunan rumah di masa mendatang untuk bisa ditetapkan sebagai cagar budaya harus memenuhi kriteria berusia 50 tahun atau lebih; mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Untuk mengusulkan sebuah bangunan menjadi cagar budaya, maka harus dilakukan pendaftaran atas bangunan tersebut. Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan/atau satuan ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada pemerintah kabupaten/kota atau perwakilan Indonesia di luar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam Register Nasional Cagar Budaya.

Register Nasional Cagar Budaya

1. Pendaftararan

Setiap orang yang memiliki dan/atau menguasai Cagar Budaya wajib mendaftarkannya kepada pemerintah kabupaten/kota tanpa dipungut biaya. Setiap orang dapat berpartisipasi dalam melakukan pendaftaran terhadap benda, bangunan, struktur, dan lokasi yang diduga sebagai Cagar Budaya meskipun tidak memiliki atau menguasainya. Hasil pendaftaran harus dilengkapi dengan deskripsi dan dokumentasinya.

2. Pengkajian

Hasil pendaftaran diserahkan kepada Tim Ahli Cagar Budaya untuk dikaji kelayakannya sebagai Cagar Budaya atau bukan Cagar Budaya. Pengkajian tersebut bertujuan melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografis yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Dalam melakukan kajian, Tim Ahli Cagar Budaya dapat dibantu oleh unit pelaksana teknis atau satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang Cagar Budaya. Selama proses pengkajian, benda, bangunan, struktur, atau lokasi hasil penemuan atau yang didaftarkan, dilindungi dan diperlakukan sebagai Cagar Budaya.

3. Penetapan

Bupati/wali kota mengeluarkan penetapan status Cagar Budaya paling lama 30 hari setelah rekomendasi diterima dari Tim Ahli Cagar Budaya yang menyatakan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan/atau satuan ruang geografis yang didaftarkan layak sebagai Cagar Budaya.

Setelah tercatat dalam Register Nasional Cagar Budaya, pemilik Cagar Budaya berhak memperoleh jaminan hukum berupa:

a. surat keterangan status Cagar Budaya; dan

b. surat keterangan kepemilikan berdasarkan bukti yang sah.

Penemu benda, bangunan, dan/atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya berhak mendapat kompensasi.

Pemerintah kabupaten/kota menyampaikan hasil penetapan kepada pemerintah provinsi dan selanjutnya diteruskan kepada Pemerintah Pusat.

4. Pencacatan

Pemerintah Pusat membentuk sistem Register Nasional Cagar Budaya untuk mencatat data Cagar Budaya. Benda, bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografis yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya harus dicatat di dalam Register Nasional Cagar Budaya.


Comment Policy: Sampaikan opini Anda melalui kolom komentar dibawah. Komentar yang tidak memenuhi pedoman atau memuat unsur negatif tertentu tidak akan ditampilkan. Terimakasih 😃
Buka Komentar
Tutup Komentar
close